Hukum Haji dan Umroh

Diposting pada

Umroh Desember – Hukum haji telah tidak menjadi kasus kembali yakni mesti bagi tiap tiap muslim yang bisa sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Imran ayat 97, Allah berfirman: “Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke baitullah bagi orang yang bisa mengerjakannya”. Yang ditujukan bersama dengan bisa di sini adalah tiap tiap muslim yang mempunyai kekuatan baik dalam hal biaya, fisik maupun waktu. Ketika telah jadi mampu, kemudian untuk bisa melakasnakan haji termasuk tetap mesti ikuti syarat, mesti dan rukun haji yang dapat di uraikan terhadap sub-bab di bawah. Kesimpulannya adalah haji hukumnya mesti dan ditunaikan satu kali seumur hidup.

Mengenai hukum umroh, para ulama punya pendapat yang berbeda-beda. Hal ini adalah hal yang terlampau wajar karena mereka termasuk punya referensi hadits yang berbeda-beda dalam membawa dampak kesimpulan terhadap sesuatu. Dalam kitab Al Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah karya Syaikh ‘Abdul Rahman bin Muhammad ‘Awad al-Jaziri di sana dimuat berkenaan perbedaan hukum perihal bersama dengan umroh. Ulama’ yang menyepakati umroh adalah ibadah sunah muakkadah (sunah yang dianjurkan) adalah Imam Maliki dan Imam Hanafi. Pendapat yang mewajibkan adalah Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Waktu Haji dan Umroh

Haji merupakan ibadah yang waktunya telah ditetapkan yakni pada tanggal 9 sampai 13 bulan dzulhijjah atau yang dikenal sebagai saat haji, musim haji ataupun waktu-waktu haji. Itu berarti musim haji hanya berlangsung satu kali dalam satu th. yakni terhadap lebih kurang 5 hari terhadap bulan dzulhijjah tersebut. Namun karena yang menjadi komitmen dan inti dari ibadah haji adalah wuquf di padang Arofah (al-hajju Arafatun) maka boleh kami berpendapat bahwa hari haji itu tepatnya jatuh terhadap tanggal 9 dzulhijjah itu sendiri.

Lain halnya bersama dengan umroh. Umroh bisa ditunaikan kapan saja dan hanya sunnah ditunaikan sekali seumur hidup. Terkait bersama dengan umroh banyak sekali pertanyaan berkenaan umroh, layaknya apakah terkecuali umroh membatalkan haji kala ditunaikan sebelum haji (saat tunggu keberangkatan haji), umroh berulang-kali terhadap bulan haji dan lain sebagainya.

Terlepas dari kenyataanya terhadap pendapat para ulama, penduduk Indonesia cenderung jalankan umroh berulang-kali bersama dengan alasan kerinduan terhadap tempat tinggal Allah SWT. Selama itu tidak menjadikan beban dan mengakibatkan pengaruh negatif para ulama setuju membolehkan umroh berulang-kali layaknya yang sering ditunaikan kala bulan-bulan haji dan bulan Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *